
Australia mulai mengikuti jejak Eropa dengan mendorong pekerja bekerja dari rumah (work from home/WFH) guna menghemat bahan bakar minyak (BBM) yang langka akibat krisis global. Langkah ini dipicu oleh seruan Badan Energi Internasional (IEA) untuk membatasi perjalanan dan memaksimalkan kerja jarak jauh.
Dilansir ABC News pada Kamis (2/4/2026), Australia turut terdampak parah oleh krisis minyak yang dipicu perang di Timur Tengah. Harga BBM melonjak, memaksa pemerintah dan perusahaan swasta bertindak cepat. Beberapa perusahaan besar di Sydney dan Melbourne kini menganjurkan karyawan WFH setidaknya tiga hari seminggu, dengan harapan mengurangi konsumsi bensin hingga 20 persen.
Serikat pekerja Australia, seperti Australian Council of Trade Unions (ACTU), mendukung inisiatif ini. “Ini bukan hanya soal hemat energi, tapi juga kesejahteraan pekerja di tengah inflasi harga transportasi,” ujar juru bicara ACTU, Sarah McManus, kepada ABC News. Mereka menekankan bahwa WFH telah terbukti efektif selama pandemi COVID-19, dan kini menjadi solusi berkelanjutan.
Krisis ini menyerupai apa yang terjadi di Eropa, di mana negara-negara seperti Jerman dan Prancis sudah menerapkan pembatasan perjalanan non-esensial. IEA memperkirakan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah bisa berlangsung berbulan-bulan, mendorong 190 negara anggotanya untuk mengurangi permintaan energi sebesar 5 persen. Di Australia, pemerintah federal berencana menggelontorkan subsidi untuk infrastruktur kerja jarak jauh, termasuk akses internet berkecepatan tinggi di daerah pedesaan.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa langkah seperti ini, Australia berisiko mengalami kelangkaan BBM yang lebih parah, memengaruhi sektor transportasi dan logistik. “WFH adalah jembatan sementara menuju transisi energi hijau,” kata analis energi dari University of Melbourne, Dr. Elena Rossi.
Sementara itu, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, pemerintah masih memantau dampak serupa, meski belum ada kebijakan WFH massal. Krisis global ini mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber energi untuk masa depan.





