
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi awal musim kemarau 2026 yang akan datang lebih cepat dari biasanya di Indonesia. Informasi ini krusial bagi masyarakat, petani, dan pemerintah daerah untuk mempersiapkan antisipasi kekeringan, ketersediaan air, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Wilayah Awal Masuk Kemarau April 2026
Sebanyak 114 zona musim atau 16,3% dari total 699 zona musim di Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau lebih dulu pada April 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi. Prediksi ini menandakan peralihan dari musim hujan yang berakhir bertahap sejak Februari-Maret di kawasan selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Prediksi Keseluruhan Musim Kemarau 2026
BMKG memproyeksikan musim kemarau 2026 bersifat lebih kering (bawah normal) di 451 zona musim atau 64,5% wilayah Indonesia, dengan durasi lebih panjang di 400 zona musim (57,2%). Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus di Sumatera tengah-selatan, Jawa tengah-timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua. Faktor pemicu termasuk melemahnya La Niña dan potensi El Niño, ditambah perubahan iklim global yang membuat kemarau lebih maju 1-2 bulan dari normal.
Imbauan dan Antisipasi
BMKG mengimbau pemerintah daerah waspada terhadap potensi kekeringan dan karhutla, serta masyarakat mempersiapkan stok air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menekankan pemantauan berkala karena 46,5% zona musim (325 ZOM) akan masuk kemarau lebih cepat. Update prediksi dapat diakses melalui situs resmi BMKG untuk penyesuaian lokal.



