
Teheran, 19 Maret 2026 – Pemerintah Iran mengeluarkan ancaman keras terhadap negara-negara Teluk setelah kematian Kepala Intelijennya, Esmail Khatib, yang diduga dibunuh dalam serangan Israel. Dalam pidato darurat malam ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran siap membalas dengan menargetkan “seluruh fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk” jika ada eskalasi lebih lanjut.
Khatib, yang memimpin Biro Intelijen Kementerian Intelijen Iran (MOIS), tewas dalam ledakan di kompleks militer dekat Teheran pada Selasa malam. Israel belum mengonfirmasi keterlibatannya, tapi sumber intelijen Barat melaporkan bahwa Mossad bertanggung jawab atas operasi tersebut. Ini menjadi pukulan telak bagi rezim Iran, mengingat peran sentral Khatib dalam operasi rahasia melawan musuh-musuh Teheran, termasuk kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi.
Ancaman Iran langsung memicu gelombang kekhawatiran di pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak 8% menjadi lebih dari $90 per barel dalam perdagangan setelah jam pasar, sementara ekspor dari Arab Saudi, UAE, dan Qatar—yang menyumbang 30% pasokan minyak dunia—dapat terancam. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan potensi krisis energi jika konflik meluas, dengan dampak ke harga BBM di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang bergantung pada impor Teluk.
“Setiap agresi Zionis akan dijawab dengan respons simetris dan tegas. Fasilitas minyak di Teluk bukan lagi zona aman,” tegas Araghchi dalam konferensi pers yang disiarkan langsung. Iran juga menyalahkan AS atas “dukungan diam-diam” terhadap Israel, meski Washington membantah tuduhan itu.
Reaksi internasional bercampur. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat besok, sementara Oman dan Qatar mendesak de-eskalasi. Sementara itu, Angkatan Laut AS mengerahkan kapal induk tambahan ke Teluk Persia untuk melindungi jalur pelayaran.
Konflik ini menandai puncak ketegangan Iran-Israel yang meruncing sejak Oktober 2023, dengan serangan rudal silang dan pembunuhan pejabat. Pakar Timur Tengah dari think tank Brookings Institute memperingatkan bahwa ancaman Iran bisa memicu perang regional, mengganggu pasokan energi global hingga bertahun-tahun.



