
Serangan drone dan rudal yang diduga dari Iran menyebabkan kebakaran hebat di kilang minyak Mina Al-Ahmadi, salah satu fasilitas energi terbesar di Kuwait. Pihak berwenang di beberapa negara Teluk menyatakan sedang merespons agresi tersebut sebagai bagian dari eskalasi konflik regional.
Dilansir Agence France-Presse (AFP) pada Jumat (20/3/2026), serangan ini merupakan bagian dari gelombang agresi Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Iran menyerang kilang minyak dan pusat gas terbesar di dunia di Qatar sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars.
Kantor Berita Kuwait (KUNA), mengutip perusahaan minyak nasional Kuwait Petroleum Corporation (KPC), melaporkan bahwa “beberapa serangan drone musuh” menghantam kilang Mina Al-Ahmadi. Ledakan memicu kebakaran di beberapa area, tetapi untungnya tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Tim pemadam kebakaran dan pasukan darat segera dikerahkan untuk memadamkan api, sementara operasi kilang sementara terganggu.
Pemerintah Kuwait mengecam serangan tersebut sebagai “tindakan terorisme negara” dan berkoordinasi dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk respons militer. “Kami tidak akan tinggal diam terhadap ancaman terhadap stabilitas energi global,” ujar seorang pejabat senior Kuwait dalam pernyataan resmi.
Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran dunia akan gangguan pasokan minyak, mengingat Teluk Persia menyumbang sekitar 30% produksi minyak global. Harga minyak Brent sempat melonjak 5% di pasar Asia pagi ini sebelum stabil kembali.
Situasi terus dipantau, dengan AS dan sekutunya menyatakan dukungan penuh terhadap negara-negara Teluk.



