
Teheran, 23 Maret 2026 – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Israel melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Ledakan keras bergema di kota-kota besar, memicu kepanikan warga dan laporan asap hitam tebal yang membubung dari berbagai titik.
Media lokal Iran seperti Mehr dan Fars segera melaporkan insiden tersebut melalui Telegram. “Ledakan terdengar di Teheran,” tulis Mehr, sementara Fars menyebut serangan udara menargetkan lima wilayah di ibu kota dengan “suara ledakan yang mengerikan”. Laporan ini dilansir oleh AFP pada Senin (23/3/2026) sekitar pukul 14:00 waktu setempat.
Lebih dari satu jam pasca-ledakan pertama, kepulan asap hitam masih terlihat dari Teheran timur, menandakan kerusakan signifikan. Militer Israel mengonfirmasi aksi tersebut melalui unggahan resmi di Telegram, menyatakan bahwa mereka “memulai gelombang serangan skala besar yang menargetkan infrastruktur rezim teror Iran di Teheran”.
Belum ada korban jiwa resmi yang diumumkan, tetapi otoritas Iran dilaporkan sedang mengevakuasi warga di sekitar zona serangan. Pemerintah Iran belum merespons secara resmi, meski ancaman balasan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mulai beredar di media sosial. Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan antara kedua negara, menyusul insiden serupa pada akhir 2025.
Komunitas internasional, termasuk PBB, mendesak kedua pihak untuk menahan diri guna mencegah perang regional yang lebih luas. Harga minyak dunia melonjak 5% pasca-pengumuman, mencerminkan kekhawatiran pasar global atas gangguan pasokan energi dari Teluk Persia.



