Home / TRENDING / Pemimpin Oposisi Israel Mengamuk: Netanyahu Gagal Ubah Rezim Iran Lewat Gencatan Senjata AS

Pemimpin Oposisi Israel Mengamuk: Netanyahu Gagal Ubah Rezim Iran Lewat Gencatan Senjata AS

Tel Aviv, 9 April 2026 – Para pemimpin oposisi Israel menyatakan kemarahan mendalam terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang diumumkan kemarin, menilai langkah itu sebagai “kekalahan strategis” bagi Israel. Mereka mengecam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena dianggap gagal memanfaatkan ketegangan regional untuk mencapai tujuan perubahan rezim di Teheran.

Yair Lapid, pemimpin partai Yesh Atid dan mantan Menteri Luar Negeri, menjadi salah satu suara terkeras. Dalam konferensi pers di Knesset hari ini, Lapid menyebut kesepakatan tersebut “pengkhianatan terhadap keamanan Israel”. “Netanyahu punya kesempatan emas untuk melemahkan rezim ayatollah secara permanen, tapi ia membiarkan AS menarik diri terlalu cepat. Ini bukan gencatan senjata, ini penyerahan,” tegas Lapid, yang didukung oleh tokoh oposisi lain seperti Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman.

Kesepakatan gencatan senjata itu dicapai setelah negosiasi intensif di Oman, di mana AS di bawah Presiden Kamala Harris setuju menghentikan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai imbalan atas jaminan Teheran untuk membekukan pengayaan uranium di atas 60%. Israel, yang sempat melakukan serangan balasan terhadap target IRGC di Suriah, merasa ditinggalkan karena tidak dilibatkan secara penuh dalam pembicaraan.

Netanyahu membela diri melalui pernyataan resmi dari Kantor PM, menyatakan bahwa “prioritas utama adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, dan kesepakatan ini membeli waktu berharga bagi intelijen kita.” Namun, kritik oposisi semakin membara di tengah survei opini publik yang menunjukkan penurunan dukungan untuk koalisi pemerintahan Netanyahu di bawah 40%.

Analis keamanan Israel, seperti dari Institute for National Security Studies (INSS), memperingatkan bahwa gencatan senjata ini bisa memberi napas baru bagi Iran untuk memperkuat proxy-nya di Lebanon dan Gaza. “Tanpa perubahan rezim, ancaman tetap ada,” kata seorang analis senior.

Reaksi ini memicu perdebatan sengit di parlemen Israel, dengan oposisi menyerukan mosi tidak percaya darurat. Sementara itu, di Washington, juru bicara Gedung Putih menegaskan komitmen AS terhadap sekutu Israel, meski menolak komentar lebih lanjut soal detail kesepakatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *