Home / TRENDING / Virus Nipah Merebak di Asia Selatan, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan

Virus Nipah Merebak di Asia Selatan, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan

Kasus infeksi virus Nipah kembali mencuri perhatian dunia setelah merebak di India dan Bangladesh, memicu kewaspadaan di berbagai negara termasuk Indonesia. Pada akhir Januari 2026, seorang perempuan berusia 40-50 tahun di Bangladesh utara meninggal akibat infeksi virus ini, yang dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kewenalan ini menekankan pentingnya pemantauan ketat di kawasan Asia Tenggara.

Kasus Terkini di Bangladesh dan India

Di Bangladesh, kasus fatal tersebut terjadi di Divisi Rajshahi dengan gejala muncul pada 25 Januari, pasien dirawat pada 26 Januari, dan meninggal pada 28 Januari; konfirmasi laboratorium didapat sehari setelahnya. Sejak 2001, Bangladesh mencatat 348 kasus Nipah dengan tingkat kematian 72%, sering terkait konsumsi nira kelapa sawit mentah dari kelelawar buah sebagai inang alami. Sementara di India, wabah kecil di West Bengal pada Januari 2026 melibatkan lima kasus, termasuk petugas kesehatan, dengan hampir 200 orang dikarantina dekat Kolkata.

Penyebab dan Risiko Penularan

Virus Nipah bersifat zoonotik, ditularkan melalui hewan terinfeksi seperti kelelawar atau babi, makanan kontaminasi air liur/urine mereka, serta kontak langsung antarmanusia. Tingkat kematian mencapai 40-75%, jauh lebih tinggi daripada banyak virus lain, tanpa vaksin atau obat khusus yang tersedia saat ini. Wabah musiman biasanya terjadi Desember-April, bertepatan panen nira, dan WHO menilai risiko nasional sedang tapi global rendah.

Respons Indonesia dan Negara Lain

Indonesia meningkatkan pengawasan perbatasan dan kesiapsiagaan, mengingat deteksi virus pada kelelawar lokal sebelumnya. Negara seperti Thailand, Nepal, Taiwan, dan Singapura memberlakukan skrining kesehatan di bandara untuk pelancong dari zona berisiko. Kementerian Kesehatan Bangladesh, dibantu WHO, telah identifikasi 96 kontak yang semuanya negatif, dengan fokus pada perawatan suportif intensif.

Upaya Pencegahan yang Disarankan

Masyarakat diimbau hindari konsumsi nira mentah, kontak dengan kelelawar, dan praktikkan higiene ketat; deteksi dini krusial untuk kurangi penyebaran. Pakar UGM menekankan edukasi risiko, pemantauan satwa liar, dan respons cepat sebagai kunci. Saat ini, tidak ada pembatasan perjalanan atau perdagangan yang direkomendasikan WHO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *