
Washington, 24 Maret 2026 – Mantan Menteri Pertahanan AS dan eks Direktur CIA Leon Panetta dengan tajam mengkritik Presiden Donald Trump atas penanganannya terhadap perang di Iran yang telah memasuki pekan ketiga. Panetta menyebut Trump terjebak dalam dua pilihan sulit dan justru mengirim sinyal kelemahan ke dunia internasional.
Dalam wawancara eksklusif dengan The Guardian yang dilansir Selasa (24/3/2026), Panetta—yang pernah menjabat di era Presiden Bill Clinton dan Barack Obama—menyoroti krisis energi global akibat pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran. “Para pejabat keamanan nasional selalu sangat menyadari kemampuan Iran untuk menciptakan krisis seperti ini,” ujar Panetta, yang berusia 87 tahun dan dikenal mengawasi operasi pembunuhan Osama bin Laden pada 2011.
Panetta menilai Trump kekurangan strategi keluar yang konkret, hanya bergantung pada “angan-angan”. “Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi,” katanya melalui telepon. “Jika dia mengatakannya dan terus mengatakannya, selalu ada harapan bahwa apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan. Tapi itu yang dilakukan anak-anak. Bukan itu yang dilakukan presiden.”
Kritik ini muncul di tengah eskalasi konflik AS-Iran, di mana pemblokiran Selat Hormuz—jalur vital 20% pasokan minyak dunia—memicu lonjakan harga energi global. Trump disebut gagal memainkan peran pemimpin negara, malah terlihat ragu antara eskalasi militer atau negosiasi yang lemah.
Panetta, yang pengalamannya mencakup intelijen dan pertahanan, menekankan bahwa keputusan Trump bukan hanya soal taktik, tapi juga citra AS di mata sekutu dan musuh. Hingga kini, Gedung Putih belum merespons kritik ini secara resmi.



