
Kabul, 17 Maret 2026 – Pemerintah Afghanistan di bawah kendali Taliban mengecam keras serangan udara yang diduga dilakukan militer Pakistan terhadap sebuah rumah sakit di ibu kota Kabul. Insiden tersebut terjadi pada Senin malam (16 Maret) dan disebut telah menewaskan sekitar 400 orang, menurut pernyataan resmi Taliban.
Rumah sakit yang menjadi sasaran adalah pusat rehabilitasi narkoba terbesar di Kabul, yang menampung ratusan pasien dan staf medis. Taliban mengklaim serangan itu merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Afghanistan dan bagian dari agresi berkelanjutan dari Pakistan. “Ini adalah kejahatan perang yang tak termaafkan, menargetkan warga sipil yang sedang berjuang melawan kecanduan,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers Selasa siang.
Menurut Mujahid, pesawat tempur Pakistan melancarkan bom dari wilayah perbatasan semalam sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Ledakan dahsyat menghancurkan sebagian besar bangunan, meninggalkan puing-puing dan korban jiwa yang mayoritas adalah pasien rehabilitasi, perawat, dan pengunjung keluarga. Taliban melaporkan bahwa angka korban bisa bertambah karena banyak yang masih terperangkap di reruntuhan.
Pakistan belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan ini. Namun, sumber militer Pakistan yang enggan disebut namanya menyatakan bahwa serangan udara dilakukan untuk menargetkan “kelompok militan” yang bersembunyi di wilayah tersebut, meski tidak mengonfirmasi lokasi spesifik. Ketegangan antara kedua negara memburuk sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021, dengan insiden perbatasan yang sering memicu bentrokan.
Organisasi kesehatan internasional seperti WHO dan Palang Merah menyatakan kekecewaan mendalam atas insiden ini, menyerukan investigasi independen. “Menyerang fasilitas medis adalah pelanggaran hukum humaniter internasional,” tegas perwakilan WHO di Kabul.
Sementara itu, Taliban telah memerintahkan pasukan keamanan untuk memperkuat pertahanan di sekitar Kabul dan berjanji balasan jika agresi berlanjut. Dunia internasional memantau ketat situasi ini, di tengah kekhawatiran eskalasi konflik regional.



